Bromo, Luka dan Senyuman.

Berjalan sendirian di dataran pasir yang luas, banyak orang yang berjalan pula menuju puncak gunung Bromo demi melihat kawah Bromo seperti apakah bentuknya.

Aku berjalan sendirian dan ketika aku telah sampai di tangga Bromo yang menuju langsung ke puncak, aku melihat seorang wanita yang sedang menawar bunga Eidelweiss yang di jual di pinggir mulut tangga. Terus terang aku tidak peduli dengan urusan dia, aku hanya melihat sepertinya dia begitu menginginkan bunga itu hingga aku melihat tawar menawar itu sedikit memberiku perhatian. Aku penasaran sembari melihat bunga itu di tawarkan padaku pula dengan harga 30 ribu rupiah per satu ikatnya.

Wanita itu mengenakan jaket berwarna Biru tebal dengan celana Jeans Navy, Sepatu warna hitam, rambut yang mungkin sepanjang bahu karena di mengenakan penutup kepala yang bisa di beli siapa saja di loket masuk bromo.

Tawar menawar antara wanita itu terlihat begitu alot, dia menawar dengan harga 15 ribu sedangkan harga awalnya adalah 30 ribu. Kalau jelas tidak akan ambil pusing, jika tawaranku tidak pas maka aku tolak saja. Aku menggigit bibir bawahku sembari melihat wanita merayu penjual bunganya untuk memberikannya dengan harga yang dia inginkan. Sudahlah matahari sudah mulai tidak bersahabat dengan dingin dan debu. sebaiknya aku hiraukan saja dia dan menuju keatas puncak Bromo demi mendapatkan Hasil jepretan kameraku yang bagus.

…………………………

Aku puas telah berkeliling Bromo dan mendapatkan foto-foto bagus yang aku ambil dari kameraku, tentu saja aku sendirian hanya di temani motor matic kesanganku. Aku benar-benar menggila disitu, ngebut dengan kecepatan kurang wajar di lautan pasir meski akhirnya aku terjatuh kemudian pergelangan tangan kiriku terkilir selebihnya mungkin hanya akan lebam.

Aku pulang melalui jalan ke arah Kota Tumpang. Diatas bukit pintu keluar setelah loket bromo aku menemukan sebuah warung, Aku beristirahat sejenak disitu sembari membersihkan pakaianku yang kotor akibat terjatuh tadi, dan berfikir keras akan aku apakan pergelanganku, setiap kali aku memegang kemudi tentu saja sakit, hanya aku tahan.

Secara kebetulan ada jeep warna merah dengan atap kuning berhenti di warung tempat aku singgah. Pintu belakang jeep di buka kemudian keluarlah kaki dengan sepatu olah raga yang kekinian, warna pink. Aku menebak jelas sepertinya wanita yang turun, Ada 5 wanita yang turun disusul 3 laki-laki, satu dari laki-laki itu yang menggunakan penutup kepala bromo aku yakin itu supir jeepnya.

Aku duduk di pojok warung menaruh tasku di bawah, di meja ada mangkok bakso yang telah aku transfer isinya ke perutku,teh anget, kamera, handphone, sarung tangan, dan sapu tangan. Aku menghiraukan ricuh mereka ketika memesan bakso kepada ibu-ibu penjual. Tanpa aku sadari lengan kiriku yang terasa sakit ternyata juga lecet, aku tidak sadar bahwa jaket yang aku kenakan sobek tembus hingga kulit dan membuat darah membasahi lengan jaketku yang berwarna Pear.

Aku tidak panik dan ini membuatku hanya berkata “yah cidera, pantas saja terasa nyeri.”

Aku tidak membawa perban atau tisu untuk menutup lukaku, aku membongkar isi tas yang aku temukan hanyalah peralatan kamera dan selotip. Aku tahu selotip akan menolongku kali ini, tapi membutuhkan satu hal lagi, yaitu tisu. Jangan berfikir aku akan merobek kaos ku hanya untuk menutupi luka seperti ini. Hal bodoh yang akan membuat luka ku menjadi terinfeksi.

Aku melihat 5 orang wanita di meja depanku, pasti mereka memiliki tisu atau apalah yang steril. Aku menegur seseorang dan bertanya apakah ada yang memiliki tisu dan bolehkan aku mendapatkannya satu lembar saja, satu cukup aku tidak perlu banyak-banyak.

Tiba-tiba seorang wanita berdiri dan melihat luka lengan kiriku. Aku ingat dia adalah wanita yang sedang menawar bunga tadi.

”sudah mendapatkan bunganya mbak?” aku bertanya.

”maaf, kok tahu?” dia menjawab.

Jelasa saja aku tahu, ketika dia menawar aku adalah lelaki yang berdiri di sampingnya waktu itu. Dia belum menjawab pertanyaanku, kemudian aku menjelaskan kenapa aku bisa tahu. Aku berkelan dengannya.

”oh iya, namaku Thomas, panggil saja dengan Tom.” aku menyahut sembari dia melihat lukaku, kemudian dia menyebutkan namanya dengan ramah, yaitu Julia.

Dia dengan cekatan tiba-tiba mengambil tisu dan mengusap lukaku dengan lembut, terus terang aku merasa heran dengan dia, kita baru saja kenal dan dia bisa sangat bersahabat sekali. Kemudian dia menutup lukaku dengan tisu ketiga setelah membersihkan lukaku dengan tisu yang basah di beri air mineral botol. Aku memegang tisu tersebut dan teringat selotip yang ada di dalam tasku. Dengan senyum dengan merintih sakit aku tempel tisu tersebut dengan selotip agar merekat di kulitku.

Aku melihat wajah orang-orang dihadapanku terlihat keheranan dan julia tertawa dengan apa yang aku lakukan.

”Bisa saja kamu ini, aku saja belum terfikir akan melakukan itu, kamu itu ada-ada saja.” Sontak julia berkata sembari melihat lukaku di lengan yang tertutup tisu dan direkatkan oleh selotip bening ukuran kecil.

Aku hanya mengangkat bahu dan tersenyum.

Aku akhirnya bergabung dengan kelompok orang-orang itu, kemudian aku bercerita apa yang aku lakukan disini sendirian dan menyebutkan aku adalah fotografer amatir yang sedang bosan akhirnya memutuskan berangkat ke Bromo sendirian.

Aku memfoto julia dan kawan-kawannya beberapa kali, aku tidak menyangka dalam beberapa saat mereka terasa sangat bersahabat. Meski aku masih nyeri kesakitan dan mereka kelelahan belum tidur dari kemarin, kami masih melanjutkan candaan kami.

Tanpa ragu aku meminta Julia untuk membagi nomer handphonenya agar aku bisa mengirimkan foto-foto mereka lewat email. Modus saja, terus terang aku tertarik dengan Julia yang berkepribadian santai dan ramah. Aku ingin perkenalanku berlanjut dengannya.

Tak lama setelah aku meminta julia nomer handphonenya, dia langsung meminta aku mencatat nomer handphonennya. aku tidak bisa miscall atau sms karena disini tidak ada sinyal. Entahlah kali ini sesi bosanku kemudian pergi ke bromo tak hanya foto yang aku dapat tetapi mendapatkan kesempatan berkenalan dengan wanita yang menarik.

……………………..

Setelah kejadian itu kami bertukar beberapa media sosial kami, Instagram, Facebook, dan Line. Waktu tak terasa sudah 5 bulan aku mengenal Julia. julia berasal dari Bekasi tetapi dia berdomisili di Surabaya karena dia masih study keperawatan tahun ke 3. Sedangkan aku Berdomisili di Malang, kuliah tahun ke 5 (iya aku tahu aku sudah waktunya keluar dari kampus ini) Jurusan Psikologi. Tak hanya kuliah aku juga berprofesi sebagai Fotografer amatir dan Konsultan Psikologi Industri.

Aku mulai akrab denga julia, kami sering bertemu jika dia ke malang ketika weekend dan dia butuh liburan. Aku sering mengantarnya berkeliling Malang dan Batu, tanpa aku minta dia bersedia menjadi Model fotoku secara gratis ketika kami pergi entah kemana.

Aku merasa Julia sebagai partner bagiku, dia bersedia mendengarkan ocehan omong kosongku, dan aku juga bersedia mendengarkan curhatan dia yang panjang lebar dari malam hingga fajar.

Aku nyaman dengan dia, aku rasa dia juga nyaman denganku. Ada satu masalah disini, aku harus memutar otak dari jaring yang aku buat jika aku menginginkan Julia berada di sisiku..

Terus terang saja pembaca, aku adalah Pedebah yang hebat, jika anda mengira hanya Julia yang ada di daftar chat ku tentu saja tidak.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a website or blog at WordPress.com

Up ↑

%d bloggers like this: